Tanggulangi Isu Kenakalan Remaja di Jombang, DPPKB PPPA Siapkan Duta Generasi Berencana Jadi Panutan

Jombang Lacakjejak.id– Maraknya isu kenakalan remaja di lingkungan sekolah dan masyarakat mendorong Pemerintah Kabupaten Jombang untuk memperkuat peran Duta Generasi Berencana (GenRe). Lewat ajang ini, para remaja terpilih disiapkan untuk menjadi panutan (role model) sekaligus tempat curhat yang aman bagi teman sebaya mereka.

Langkah ini dinilai efektif. Berdasarkan hasil evaluasi, sekolah yang aktif melibatkan siswanya dalam kegiatan GenRe mencatatkan penurunan tingkat kenakalan remaja secara signifikan.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB PPPA) Kabupaten Jombang, Dr. dr. Ma’murotus Sa’diyah, menegaskan pentingnya melatih remaja agar mampu membentengi diri dan lingkungannya.

“Banyak persoalan remaja yang kita hadapi saat ini. Nah, Duta GenRe ini bisa menjadi panutan di sekolah atau lingkungan masing-masing. Mereka menjadi rujukan, seperti inilah sosok remaja yang berpositif dan berprestasi,” ujar Dr. Ma’murotus Sa’diyah.

Ajang Pemilihan Duta GenRe Kabupaten Jombang 2024 ini diawali dengan antusiasme yang tinggi. Dari sekitar 125 peserta yang terdaftar dari berbagai sekolah, termasuk dari wilayah pinggiran seperti Kecamatan Ngoro, proses seleksi berlanjut hingga menyaring 10 pasang finalis (10 laki-laki dan 10 perempuan) di babak final.

Para peserta tidak sekadar tampil di atas panggung (catwalk), melainkan diuji pemahamannya terkait wawasan kritis, meliputi:

-Ketahanan & Kesejahteraan Keluarga: Memahami cara membangun keluarga yang tangguh sejak dini.-Program Keluarga Berencana (KB): Edukasi kesiapan hidup berkeluarga.

-Kreativitas & Karya: Mendorong remaja agar tetap produktif dan berkarya positif.

Pemerintah Kabupaten Jombang memastikan tugas para finalis tidak berhenti setelah piala diserahkan. DPPKB PPPA bersama Kementerian Pembina Bangga/BKKBN telah menyiapkan program pendampingan berkelanjutan.

Para Duta GenRe akan terjun langsung ke lapangan sebagai mitra strategis pemerintah. Mereka bertugas mengedukasi sesama remaja tentang bahaya risiko Triad KRR (Seks Bebas, Pernikahan Dini, dan NAPZA) serta mendorong usia pernikahan ideal (minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki).

“Mereka akan kita ajak bersinergi membawakan program-program BKKBN di lapangan. Ada pendampingan secara terus-menerus, baik dari kami maupun dari pusat,” jelas dokter yang akrab disapa Ning Eyik tersebut.

Mengakhiri keterangannya, beliau menekankan bahwa pembinaan remaja hari ini adalah investasi jangka panjang untuk menyiapkan Generasi Emas.

“Pesan moralnya, remaja adalah masa depan bangsa. Mewujudkan Generasi Emas itu tergantung dari apa yang kita bekalkan kepada remaja-remaja ini sekarang,” pungkasnya.(Jit)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *