Jombang Lacakjejak.id– Hari Ulang Tahun Desa Karangdagangan Kecamatan Bandarkedungmulyo, dalam usia ke-980 tahun dilakukan dengan cara yang tak biasa seperti tahun sebelumnya yakni kirab air suci dari tujuh sumber, dengan jarak tempuh sekitar tiga kilometer dari start sampai finish. Kamis (13/8/2026).
Prosesi ini menghidupkan kembali jejak sejarah, mulai dari era Kerajaan Medang Kahuripan hingga kisah Ronggolawe yang melegenda di tanah Jombang dan Tuban.
Jejak Sejarah Dari Desa Padangan Hingga Ki Ageng Karangjaga. Pemerhati sejarah dan budaya Jombang, Dian Sukarno, menjelaskan ada dua acuan utama terkait asal-usul Karangdagangan.
Pertama. Acuan usia dari Prasasti Simanglayang. Angka 980 tahun diambil dari prasasti yang dikeluarkan Prabu Erlangga pada masa Kerajaan Medang Kahuripan. Di prasasti yang diduga berada di Tasikmalaya itu tertulis nama Desa Padangan.
“Jika merujuk prasasti itu, maka Karangdagangan adalah salah satu desa tertua di Jombang. Dulu Jombang bahkan jadi ibu kota Kerajaan Medang pada 929 Masehi sebelum pindah ke Watu Galuh 937 Masehi,” jelas Dian.
Karena itu, di sekitar Jombang banyak desa tua lain seperti Tambelang dan Glagah yang dulu bernama Desa Printing.
Kedua. Asal-usul nama Karangdagangan. Menurut naskah yang dinovelkan almarhum Ki Agus Sunyoto, nama ini berasal dari sosok bangsawan Bugis-Makassar bernama Daeng.
Di akhir era Majapahit Daeng menjadi santri kesayangan Sunan Maulana Malik Ibrahim. Setelah mencapai tahapan tertentu, ia diberi nama baru dan mendapat mandat dakwah. Ia kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Karangjaga atau Karangdada dan ditugaskan berdakwah di wilayah ini.
“Dari Ki Ageng Karangjaga inilah muncul nama Karangdagangan. Sampai sekarang makam beliau masih kami cari,” terang Dian.
Putri Keraton dan Prajurit Kawal Tirto Wening. Tujuh perempuan berpakaian adat bak putri keraton melangkah anggun di barisan paling depan kirab. Di tangan mereka, cawan berisi air jernih berkilau diterpa matahari.
Air itu bukan air biasa. Itu Tirto Wening air suci yang diambil dari tujuh sumber berbeda. Tiga di antaranya sengaja diambil dari sendang di Kabupaten Tuban yang memiliki kaitan sejarah dengan Ronggolawe.
Menurut Kepala Desa Karangdagangan, Abah Tambit, sendang-sendang tersebut adalah saksi bisu perjuangan Ronggolawe saat mengintai musuh di wilayah desa.
“Air yang disebut Tirto Wening kemudian kami satukan dalam sebuah gentong besar di pendopo desa,” ujar Abah Tambit.
Di belakang para putri, barisan puluhan pria berpakaian prajurit tradisional mengawal ketat. Disusul iring-iringan warga. Setiap RT kompak mengusung gunungan raksasa berisi sayur-mayur dan buah segar hasil bumi desa, diiringi sound horeg yang menggema.
Makna Spiritual untuk Kesuburan dan Syukur. Setiba di pendopo, ketujuh cawan air dituang ke dalam satu gentong besar. Momen sakral itu diiringi doa bersama.
“Ritual ini mengandung makna spiritual untuk kesuburan tanah dan penghormatan kepada para leluhur. Ini adalah bentuk syukur sekaligus doa agar desa kami terus diberkahi hasil bumi yang melimpah,” ujar Kades Tambit.
Selesai doa, giliran gunungan hasil bumi yang jadi rebutan. Puluhan gunungan dibagikan gratis kepada warga dan pengunjung yang hadir di Lapangan Pasar Doro, depan kantor desa.
Ditempat yang sama menurut seorang tokoh masyarakat, Abah Suhardi, menambahkan perayaan ini adalah wujud syukur atas hasil pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.
“Hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan tersebut adalah hasil dari warga dan itu karena berkah yang harus kita syukuri bersama kepada Allah SWT,” ucap Abah Hardi.
Harapan Jadi Warisan Budaya. Perayaan tahun ini terasa istimewa. Untuk ketiga kalinya digelar besar-besaran dan berhasil menyedot ribuan peserta.
“Kami berharap, acara ini bisa menjadi media pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal dan melanjutkan warisan budaya leluhur kami,” tandas Kades Tambit.
Dengan usia hampir 1 milenium, Desa Karangdagangan membuktikan tradisi tidak harus punah. Ia bisa hidup, dirayakan, dan menjadi kebanggaan bersama.(Jit )













