Jombang Lacakjejak.id-Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang bersama Komisi Irigasi (Komir) memperkuat strategi pengelolaan air dan penyesuaian pola tanam sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau panjang tahun 2026.
Hal tersebut dibahas dalam rapat Kelompok Kerja (Pokja) Komir yang digelar di Ruang Sekretariat Komir Dinas PUPR Jombang, pada Rabu (15/4).
Dalam forum rapat ini melibatkan lintas sektor, mulai dari Dinas PUPR, Bapperida, Dinas Pertanian, UPT PSDA, hingga perwakilan HIPPA dan GHIPPA sebagai pengelola air di tingkat petani.
Kepala Dinas PUPR Jombang, Imam Bustomi, dalam kesempatan ini menyampaikan,” Berdasarkan hasil pembahasan, musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal, dan erlangsung lebih lama yang disertai peningkatan suhu udara,
’’Untuk wilayah Jombang, kemarau diperkirakan mulai awal Mei di wilayah utara Sungai Brantas dan pertengahan Mei untuk wilayah lainnya. Ini menjadi dasar kami dalam menyusun langkah strategis, terutama pengaturan pola tanam dan distribusi air irigasi yang lebih efisien,”ujarnya.
Masih dari Imam Bustomi,”Kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci dalam meminimalkan dampak kekeringan. Khususnya bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air,
“Pemerintah mendorong percepatan tanam pada musim kemarau (MK) I serta penyesuaian pola tanam. Petani juga diimbau tidak memaksakan penanaman padi pada musim kemarau (MK) II di wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air guna menghindari risiko gagal panen.,” Tambahnya.
Selain faktor iklim,dalam agenda rapat juga menyoroti adanya pekerjaan konstruksi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas pada Daerah Irigasi Mrican Kanan dan Siman yang dijadwalkan mulai Juni nanti karena bisa berpotensi memengaruhi distribusi air, terutama di wilayah hilir.
Pihak Dinas PUPR Jombang melalui Kepala Bidang SDA Sultoni mendorong agar pelaksanaan proyek tetap memperhatikan kebutuhan petani, salah satunya dengan mengalihkan aliran air menggunakan pipa berdiameter besar atau gorong-gorong sementara agar distribusi air tetap terjaga,
Di sisi lain, petani juga diharapkan beradaptasi dengan menanam komoditas yang lebih hemat air. Langkah teknis lain yang disepakati meliputi pendataan sumur air dalam sebagai sumber alternatif.
’’Optimalisasi pompa submersible, serta penguatan koordinasi antara Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan GHIPPA dalam pengaturan distribusi air,’’ ujarnya.
“Informasi dari lembaga klimatologi nasional juga menunjukkan potensi kemunculan fenomena El Nino pada 2026 yang dapat memicu kekeringan, meski diperkirakan intensitasnya diperkirakan tidak sekuat pada 2023
”Meski tidak sekuat sebelumnya, kewaspadaan tetap diperlukan karena dampaknya terhadap pertanian cukup signifikan. Terutama di daerah yang bergantung pada irigasi,’’Tutup Sultoni dalam pengarahannya di forum rapat (Jit)













