256 Siswa SMPN 1 Kabuh Jombang Keracunan Setelah Santap MBG Begini Langkah Komisi B DPRD Jombang

Jombang Lacakjejak.id-Ratusan siswa SMPN 1 Kabuh, Kabupaten Jombang dikabarkan mengalami gangguan kesehatan setelah makan hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kasus tersebut kini menjadi sorotan karena jumlah siswa yang mengalami keluhan mencapai ratusan orang. DPRD Jombang mendorong proses investigasi dilakukan secara terbuka sehingga penyebab kejadian dapat diketahui secara pasti.

Para siswa merasakan beberapa keluhan antara lain diare, mual, muntah, pusing hingga sakit perut. Hal ini mulai muncul beberapa jam setelah makanan MBG dibagikan untuk makan siang pada Rabu (2/9)

Kejadian yang melibatkan ratusan siswa ini mendapat perhatian dari DPRD Kabupaten Jombang. Segenap Dewan meminta adanya pemeriksaan menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi pemasok makanan dan olahan masakan.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jombang dari Fraksi PDIP, Ama Siswanto, mengatakan,” Penelusuran perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan sekaligus memastikan seluruh proses penyediaan, olahan masakan dan pendistribusian makanan telah sesuai prosedur apa tidaknya,

” Pemerintah Daerah melalui Satgas MBG Jombang harus segera melakukan investigasi menyeluruh, termasuk mengecek kemungkinan adanya prosedur operasional standar (SOP) yang tidak dijalankan oleh SPPG,“Saya berharap agar Satgas MBG di Jombang segera bergerak untuk melakukan investigasi. Apakah ada SOP yang dilanggar, atau seperti apa? Semua harus jelas dan transparan,” kata Ama, setelah adanya kabar adanya siswa-siswi SMPN 1 Kabuh keracunan, Jumat (4/9) siang. 

Ama menilai penanganan medis terhadap siswa yang keracunan saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi kali ini.

Masih dari Amma Siswanto,” Penyebab kejadian harus ditemukan agar dapat menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG di Kabupaten Jombang khususnya,

“Saya memohon agar seluruh biaya pengobatan siswa yang membutuhkan pelayanan kesehatan tidak dibebankan kepada korban atau orangtua dan keluarganya

Yang jelas harus ada yang bertanggung jawab atas biaya pengobatannya, karena mereka ini korban. Entah itu pihak SPPG atau Pemerintah, yang penting mereka tidak terbebani biaya,” Ucap politikus dari PDI Perjuangan ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada,membeberkan dan membenarkan adanya 256 siswa yang mengalami keluhan kesehatan. Jumlah tersebut, katanya, telah melalui proses validasi hingga Kamis (3/9/2026)

“Sebagian siswa memilih mendapatkan pengobatan secara mandiri. Sementara sebagian lainnya menjalani pemeriksaan dan perawatan jalan di sejumlah Puskesmas serta klinik.

Lebih lanjut dikatakan Hexawan,”Dari ratusan siswa tersebut, tujuh orang sempat mendapatkan perawatan karena mengalami kondisi lemas dan membutuhkan rehidrasi. Namun, kondisi ketujuh siswa tersebut dilaporkan mulai membaik.

“Yang tujuh ini kondisinya lemas. Sebetulnya kondisinya sudah bagus, paling rehidrasi saja. Mungkin besok sudah pulang,” Ucap Hexawan.

Ditambahkan dalam keterangannya,” Dinkes mencatat sekitar 74 siswa masih menjalani rawat jalan di Puskesmas maupun sejumlah klinik, di antaranya Klinik Mitra Plus dan Klinik As-Syifa. Sedangkan siswa lainnya memilih menjalani pengobatan sendiri.

“Hasil penelusuran nantinya diharapkan tidak hanya menjawab penyebab gangguan kesehatan yang dialami siswa SMPN 1 Kabuh, tetapi juga menjadi evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.

“Langkah tersebut dinilai penting agar kualitas makanan dan seluruh proses distribusinya dapat lebih terjamin serta kejadian serupa tidak terulang,” Pungkasnya. (Jit)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *